Ini tulisan yang dikirim buat bang IFP buat antologi, tapi kok udah gak tau kabarnya.. yaudah dipost aja::::tapi ini agak serius::::
Bergumul dengan teks (itu)..
“Kamiwariskan sebuah republik, kalau kau bisa menjaganya…”
(Sukarno-Hatta)
Pemuda ini datang dan lahir di republik dengan nama Indonesia, menyebut tanah airnya indonesia dan belum berani bilang bahwa tanah tumpah darahnya adalah juga indonesia. Kini ketika tantangan itu datang, pemuda ini, nyatanya (nyaris) tak punya daftar inventaris kegiatan yang punya sumbangsih untuk republik, padahal dia kuliah dan kini makan dari uang republik.
Melihat republik sekarang, pemuda ini nyaris putus asa. Dia sebenarnya bukan seorang pesimis yang suka mendramatisir keadaan republiknya. Dia mencoba optimis tetapi kaum realis mengejeknya dengan mengatakan bahwa dia sedang membangun mimpi kosong. Nyaris ia menjadi pragmatis karenanya.
“Kini saatnya kaum muda memimpin”, sebuah teks idealis muncul di hadapan pemuda ini. Belum hilang bayangan teks itu,teks lain sudah mengintrupsi, “Apa yang kalian maksud memimpin? Sudah banyak anak muda menjadi anggota DPR, tetapi kekuasaan membuat mereka terbius dan kesudahannya hanya sibuk memperkaya diri.” Si pemuda hanya terdiam. “Kualitas para tokoh politik itu”, lanjut teks itu, “..hanya setingkat dengan stereotip yang kita lekatkan pada pegawai negeri: seadanya, kurang kreatif, ogah berinisiatif, dan gigih menjaga tradisi tak bertanggungjawab”. Pemuda ini tampak tersinggung dengan kata-kata itu, karena dia adalah juga seorang pegawai negeri bahkan ia berambisi memimpin, tapi kali ini ia benar-benar tak kuasa membantah.
Bahkan kemarin juga sempat muncul teks radikal lain dalam kacamataberpikirnya, “potong generasi”, begitu kira-kira bunyinya. Tetapi dia tak kuasa menyampaikan pemikirannya itu kepada dunia. Dalam bayangan absurdnya dia masih bertanya apakah dirinya sudah mempersiapkan diri untuk menggantikan sang tua, yang akan di”potong” itu. Sejarah membuktikan para muda hanya bisa menumbangkan rezim, setelahnya, orang-orang “lama” itu juga yang kembali menduduki jabatannya, kali ini dalam topeng yang lain .
Kemana anak-anak muda itu, tak jelas. Mungkin mereka menganggap tugas mereka sudah selesai, atau bahkan ternyata mereka tidak sanggup menggantikan sang tua. Diadu apapun mereka kalah, mereka cuma jago mengumbar kata-kata idealis, mereka tidak punya struktur filosofi yang kuat dan solid. Bahasa mereka selalu terdengar berapi-api dengan banyak mengutip sumber-sumber akademik, namun kering implementasi. Di dalam mereka keropos bahkan tak sanggup mengurus diri.
Akankah kita serahkan bangsa ini pada orang-orang seperti itu???
Tapi, dunia lebih sulit dari kelihatannya dan cepat sekali berubah. Mereka kemarin yang dijarah sudah mulai pandai meniru menjarah. Mereka yang perlu direformasi sudah mulai fasih meneriakkan reformasi. Mereka yang kemarin dipaksa-paksa sudah mulai berani mencoba memaksa. Mereka yang kemarin dipojokkan sudah mulai belajar memojokkan.
Tapi itu hanyalah teks, telah berkali-kali ia berguru pada teks dan hasilnya hanyalah “mimpi”. Hasilnya adalah bayangan bias. Teks itu bagaikan meluncur dari para pelaku kehidupan yang sudah banyak makan garam tetapi nyatanya hal itu hanyalah menambah keresahan bahwa teks itu mungkin hanya akan membuat hatinya membumbung ke angkasa ke dalam bayang idealisme yang juga melangit. Tapi, sekali lagi miskin implementasi. Hampir saja dia tak percaya lagi pada “teks idealis” itu. Sekali lagi, ternyata dunia lebih berat dari kelihatannya.
Apa yang bisa diperbuat?? Tanya sang pemuda kepada alam setelah bosan berguru pada teks. “Jangan berharap terlalu banyak pada teks, dia hanyalah sahabat. Tokoh utama dalam hidupmu adalah kamu, bukan teks. Lihatlah golongan tuamu, kalaupun mereka bebal, korup, tak punya malu, mereka telah berkawan dengan lebih banyak teks dibanding kamu. Dan yang paling penting :mereka melakukan sesuatu jauh melampaui teks. Mereka memanfaatkan teks bukan hanya dengan dialektika, mereka sudah mulai lebih canggih memanfaatkan teks, mereka menyebut itu : manipulasi. Mereka kenyang dengan teks, sehingga nyaris tak pernah kehabisan kata-kata”. Apakah teks telah diperalat oleh mereka??tanya sang pemuda lebih lanjut. Alam diam saja, bahkan menghujani sang pemuda dengan sepi dan perih. Dia menghening, pura-pura tak tahu, kemudian bersiul dengan angin seakan mengejek sang pemuda, lalu membiarkannya sendiri.
Beruntung akhirnya dia dipertemukan dengan teks : “Jangan melangkah di jalan keputusasaan, di alam ini terhampar berjuta harapan. Jangan pergi ke arah kegelapan di alam ini terhampar banyak cahaya.” Walaupun tidak menjawab semua pertanyaannya tetapi minimal teks itu membangkitkan ruang optimismenya. Membuatnya menginventarisir kembali ruang-ruang kemungkinan yang di”doa”kan segera menjadi nyata. Tapi, dia masih menatapnya dengan pandangan absurd.
Beruntun setelah itu teks-teks yang lain menyusul memberi harapan. “Yang anda harus lakukan adalah mengubah mimpi anda. Yang anda butuhkan adalah menanam bibit yang lain, mengajari anak-anak anda cara memimpikan impian baru”, seloroh teks lain mencoba memberi alternatif. “Kita telah memasuki satu dari sekian era penting dalam sejarah manusia, era yang dapat diramalkan. Kita memiliki kesempatan meningkatkan diri kita menuju tingkat kesadaran baru. Kini kita meramalkan masa depan. Terserah kita -aku dan kalian- untuk mewujudkannya.”, teks yang lain tak mau ketinggalan memberi dukungan. Sang pemuda meliriknya, sambil menggumam, “entahlah”.
Ia membuka mata, ia hampir kecewa lagi dengan itu semua. Dalam teks demokrasi ternyata belum tentu ada kemakmuran, dalam teks sosialis nyatanya jarang juga terdengar filantropis menjadi falsafah kehidupannya, bahkan kadang hanyalah penindasan terhadap ketidakberkuasaan. Ia mengambil nafas untuk merenung.
Akhirnya bagiku, teks hanyalah teks. Ia di alamnya dan kami di dunia kami. Tapi aku masih berkawan dengan teks kebenaran, aku masih berteman dengan teks keteladanan. Dalam kehampirputusasaan aku bersahabat dengan teks berpikir positif, aku bergaul dengan mereka. Dalam kesepian mereka, aku menemani mereka dengan menghadirkannya ada. Dalam kesepianku mereka menemani dengan menghadirkan aku ada. Hubungan kami memang sangat “complicated”, kadang kami marah-marahan, Kadang kami mesra seperti seorang adik dan kakak dan sering kami habiskan waktu bersama.
Semoga kami yang sekarang disini bukan hanya kawan, sahabat, teman, saudara dari satu atau berjuta teks kebenaran dan kebaikan. Kami ingin mendampingimu dan menyertaimu dalam kebenaran. Tapi yang terpenting kami, ingin membelamu dalam kebenaran. Mengharap juga engkau bersedia mendampingi, menyertai, menegur, memperbaiki kami dalam kehidupan.
Akhirnya teks hanyalah teks, ia hidup di alamnya, berkawan denganku di alamku, kadang ia membawaku ke alamnya, sesekali… ia mengajarku untuk sama-sama belajar.. hingga akhirnya kita layak menjaga republik..
Luwuk, 31 Januari 2008
Sahabat Pena..
Teks-teks yang terlibat:
1.Ahmad Sobary, Kompas, 22 desember 2007
2.John Perkins , Confession of Economic Hitman II
3.Gusmus, “Rasanya Baru Kemarin”