Just another Friendster Blogs weblog

Munafik Laundering


Sebelumnya mau membuat sebuah pengakuan dulu. Ketika saya menulis tentang munafik, bukan berarti saya bukan orang yang termasuk didalamnya. Ato anggapan pertama para pembaca mungkin akan digiring pada pemikiran bahwa sang penulis artikel (saya) bukan seorang munafik. Lha, berani nulis (memberi kritikan) tentang munafik, berarti sudah bukan munafik lagi dong? Tetapi bisa juga sebaliknya, sang penulis sebenarnya malah menunjukkan bahwa dia seorang munafik. Kayak psikologi terbalik “maling teriak maling”. Sebelum ketangkap sebagai seorang “munafik”, sang penulis duluan nuduh orang laen munafik. Ato malah kedua-duanya, yang dituduh dan yang menuduh sama-sama munafik. Ato malah anda yang sedang membaca artikel ini. heh mumet

so..

Munafik, menurut pakdhe wiki indonesia : merujuk pada mereka yang berpura-pura mengikuti ajaran agama namun sebenarnya tidak mengakuinya dalam hatinya. Atau kini telah berkembang menjadi sebuah gejala “lain dimulut lain di hati’. Perkembangan ilmu kemunafikan juga telah sampai pada psikologi maling teriak maling tadi (ini definisi saya pribadi). Sudah berbohong, mau menguntungkan diri sendiri ditambah menuduh orang laen, Ternyata menggejala di indonesia (baca:dunia). Sebelum ketauan disebut teroris, sang teroris lebih dulu berkoar-koar memberantas teroris. Para penggiat bisnis porno menuduh para pendukung UU Pornografi sebagai para munafik.

Menurut Rosululloh SAW, tanda orang munafik itu ada 3. “Dari Abu Hurairah RA bahwasanya Rasulullah SAW bersabda: Tanda orang munafik itu ada 3 :Apabila berbicara ia berdusta; Apabila berjanji ia mengingkari; Apabila diberi amanat ia berkhianat(HR Muslim).

Lalu bagaimana para pemangku amanat (pemimpin) di negeri ini? Apakah slogan kampanyenya dusta, janji kampanyenya diingkari, setelah dipercaya mengkhianati..? Ato lebih mudahnya, mana diantara pemimpin kita yang sebaliknya?

Yang lebih fenomenal, sekarang definisi munafik menyempit. Dengan berbekal ilmu maling teriak maling tadi, kini orang berlomba-lomba meng-image-kan dirinya bukan seorang munafik. Dalil-dalil juga dipolitisir untuk perkara munafik laundering ini. Dalil : “Apabila ada seorang muslim yang 3 kali berturut2 dengan sengaja melalaikan kewajiban sholat jumat, maka dia termasuk orang2 yang munafik” menjadi salah satu pegangan mengakali Alloh. Dulu ada seorang sahabat bercerita mengenai MrX yang tak pernah sholat 5 waktu, tapi demi tidak disebut munafik dia selalu berusaha ikut sholat jumat.. kalaupun tidak bisa setiap minggu, ia akan usahankan sekuat tenaga untuk tidak meninggalkannya selama 3 kali berturut-turut. Untuk tidak disebut munafik?

Maka kini sholat jumat, atau mungkin ibadah-ibadah kita yang laen hanya sebuah sarana untuk ‘munafik laundering’? Padahal kalau ibadah kita ikhlas, gelar munafik yang mengotori hati kita benar-benar bisa dilaundry olehNya.

Dengarlah doa AbuNawas ketika memahami bahwa dirinya hamba yang lemah, yang tidak tertutup dari dosa-dosa kemanusiaan ; Ilahi lastu hi firdausi ahla, wala aqwa’alan naril jahimi, fahabli taubatan waghfir dzunubi, fa innaka ghofiruz dzanbil ‘adhimi.

Wahai Tuhanku, aku ini tidak pantas menjadi penghuni surgamu, tetapi aku tidak akan kuat menghadapi panasnya api neraka. Oleh sebab itu terimalah taubatku dan ampunilah dosa-dosaku. Karena sesungguhnya Engkaulah Dzat yang mengampuni dosa-dosa besar. Sebuah kemunafikan yang disadari dengan mengikutinya dengan taubat dan berbuat baik.

Semoga, kita semua diampuni olehNya

Married & Divorce Perspective


Beberapa tahun terakhir rakyat indonesia tengah terperangkap dalam sebuah penjara yaitu infotainment. Maunya dapet tainment berupa info eh yang didapat cerita miris tentang perceraian, tentang kebencian, tentang fitnah, tentang gugat menggugat, tentang gaya hidup yang hemm, tentang pernikahan yang super-duper megah dsb. Berbanding terbalik dengan realita masyarakat kita yang masih berhdapan gagalnya panen supertoy, langkanya pupuk, mahalnya bikin KTP, busung lapar, kebakaran, banjir, gempa bumi dan kasus-kasus lain yang melibatkan “rakyat”.

Iya para selebritas, para wakil rakyat, para artis, para musisi, para pengusaha, para konglomerat, bahkan para mahasiswa, meminjam istilah emha, sudah gak mau mendapat predikat “rakyat”. Apalagi kalau ditambah-tambahi “rakyat indonesia” tambah alergi mereka. Stereotip yang mereka lekatkan kepada rakyat (indonesia) adalah : bodoh, goblok, miskin, lugu, gak berpendidikan, ngamukan, males, dan hal-hal jelek lainnya. Para rakyat yang kelas menengah pun sekarang sudah tidak mau dipanggil ‘rakyat’ , dipanggil “warga” (indonesia) sajalah katanya. Dunia bukan lagi bulat, sudah dikotak-kotak, dikapling-kapling. Mau ngubur mayat : bayar. Mau bikin tempe : bayar (royalti), mau jadi pegawai, yang bukan lagi “rakyat” : bayar.

Waktu masih kuliah dulu sering banget ndengerin diskusi atau lebih tepat jika dikatakan obrolan tentang pernikahan. Bukannya selalu pengen denger tetapi suasana kampus memang tengah dilanda “marriage syndrome” dimana para makhluk kampus memang sedang hangat-hangatnya belajar tentang pernikahan. Sebuah fenomena yang luar biasa di tengah gelombang permisivisme pergaulan.

Bayangan tentang pernikahan, adalah sebuah monumen megah yang dihormati manusia, dibangun dengan ruh kesungguhan, cinta dan pengorbanan, dan hal-hal menarik yang lain sehingga membuat image-nya  bagai mercusuar. Kadang kecintaan kita kepada konsep pernikahan mengalahkan cinta kita kepada calon istri/suami, orang tua kita, saudara dan orang-orang lain yang sebelumnya kita cintai. Orang sering menyebut ke”gila”an ini sebagai ‘married perspective”. Begitu juga ketika kita lihat orang-orang, (atau yang sering kita konsumsi secara sadar/tidak, perceraian artis) perceraian selalu bersamaan dengan sebuah kebencian melebihi akal sehat. Kebencian yang dengan sangat mudah dijustifikasi, dirasionalisasi, dimodifikasi sebagai sebuah kebenaran atau pembenaran bagi sebuah alasan “perceraian”(orang menyebutnya : divorce perspective). Ini sangat berlawanan dengan hal pertama tadi, tetapi memliki kemiripan yang kronis. Meminjam istilah kegilaan Andrea Hirata : Obsesif kompulsif.

Maka akibatnya kini lihatlah rakyat indonesia ketika memilih atau mengganti pemimpinnya. Kedua perspektif ini selalu dijadikan pilihan. Menjunjung-junjung tinggi sampai rela mati, atau menghujat-hujat sampai dunia akherat. Kini era perang iklan dipakai, perang iklan dikobarkan, dibesar-besarkan, dibumbui, diramu untuk mengambil hati para “rakyat” yang dianggap masih memiliki penyakit-penyakit diatas. Pada akhirnya: rakyat yang kau sebut itu tidak selamanya bodoh..tidak selamanya gila…

saya juga rakyat indonesia

Jalan bareng om pragma


Semakin tua, semakin nyaman, kita ko jadinya makin deket dengan om pragma (tis) ya? Hari-hari dilalui bersama dalam zona nyaman. Mulai sedikit ketularan kuat bang ego (is) dan meyakini kekuatan individual (is).

Nah ini yang saya pelajari dari om Super Mario (Teguh): Menurut om Super Mario, untuk berhasil, orang tidak perlu belajar banyak, tapi belajar beberapa hal dengan tepat dan segera bertindak untuk apa yang ia tuju. “Kita lupa bahwa masalah hidup yang sering kita temui terjadi bukan karena kurangnya pengetahuan, tapi karena tidak cukupnya tindakan”, ingatnya. Bahkan Tuhan juga menjamin, orang yang tidak tahu akan dibuat tahu ketika melakukan. Karena setelah kita bertindak, kitapun akan belajar, mana yang kurang baik, mana yang keliru- sehingga kita jadi lebih tahu

(majalah Rider Digest Indonesia, edisi Desember 2008, halaman 65)

Jadi apa hubungannya dengan om pragma (tis)? Yaitu tadi, sebenernya deket dengan om pragma juga gak papa,untuk mencapai tujuan jangka pendek yang kadang harus diputuskan dengan segera, ya bertindaklah dengan segera.Jangan  terlalu lama berpikir sehingga akhirnya malah gak mau bertindak.

Tetapi sebelum itu kita harus punya visi yang jelas tentang kehidupan, sehingga om pragma tidak mengendalikan jalan hidup kita, tetapi kita yang kadang-kadang ngajak maen om pragma ke dunia kita. Yang perlu diketahui juga om pragma ini harus om pragma yang pinter. Jangan mengambil tindakan tanpa berpikir dengan logika akal sehat, kecuali dalam pencapaian-pancapaian keajaiban yang terbaik yang berguna untuk orang banyak.

Bertindaklah sambil berpikir.

Tengkyu Om Super Mario (Teguh)

Puisi sisi


Coba-coba nulis puisi lagi..hihi…memalukan si…

-masi punya muka-

Ada sebuah masa depan pasti yang terbentang, kita diberi pilihan-pilihan pencapaian. Ruang di sendiku mulai malas mengunyah asa

Burung mengajar bagaimana terbang itu natural, tetapi tetap saja mereka harus belajar.

Kini di tengah keperkasaan gunung yang menggeliat, aku merasa kecil.

Menunggu pagi ini menjadi hangat

Mencoba mencari inspirasi dalam ayat alam raya

Ah, bagiku beo, cecurut, buglon,

Ah, apakah esok bukan lalat yang mengerubuti…

Entah akan kemana kaki ini melangkah

Bahkan aku kadang hanya akan menjawab entah, untuk pertanyaan jiwa yang bergejolak

Hidup ini khan bukan hanya aku dan kamu

Tetapi kemanfaatan diriku dan dirimu belum menjawab semua permasalahan

Rumput, dan embunnya

Gunung dan gagahnya

Awan dan bulu-bulunya

Langit dengan jingganya

Engkau persaksikan diriku dalam diam, sunyi

Mengais inspirasi unuk menjadi “diri”

Bukan hanya untuk sekedar bediri

Tetapi jadikan diri punya arti

Bahkan dalam gemericik burung yang bersahutan

Aku tak mampu berjanji

Menambah hutang pada tetesan pagi

Biarlah hanya sebuah batu bata dipancangkan

Biarlah esok kucoba menambahnya kuat

Biarlah besok kan kubangun atap

Semoga..

Pagi ini sepi masih menggeliat

Beriring deru sahutan roda kehidupan

Seonggok manusia hanya menatap

Tak mampu berkata, hanya berdoa…

Agak Serius Nih!!!


Ini tulisan yang dikirim buat bang IFP buat antologi, tapi kok udah gak tau kabarnya.. yaudah dipost aja::::tapi ini agak serius::::

Bergumul dengan teks (itu)..

“Kamiwariskan sebuah republik, kalau kau bisa menjaganya…”

(Sukarno-Hatta)

Pemuda ini datang dan lahir di republik dengan nama Indonesia, menyebut tanah airnya indonesia dan belum berani bilang bahwa tanah tumpah darahnya adalah juga indonesia. Kini ketika tantangan itu datang, pemuda ini, nyatanya (nyaris) tak punya daftar inventaris kegiatan yang punya sumbangsih untuk republik, padahal dia kuliah dan kini makan dari uang republik.

Melihat republik sekarang, pemuda ini nyaris putus asa. Dia sebenarnya bukan seorang pesimis yang suka mendramatisir keadaan republiknya. Dia mencoba optimis tetapi kaum realis mengejeknya dengan mengatakan bahwa dia sedang membangun mimpi kosong. Nyaris ia menjadi pragmatis karenanya.

“Kini saatnya kaum muda memimpin”, sebuah teks idealis muncul di hadapan pemuda ini. Belum hilang bayangan teks itu,teks lain sudah mengintrupsi, “Apa yang kalian maksud memimpin? Sudah banyak anak muda menjadi anggota DPR, tetapi kekuasaan membuat mereka terbius dan kesudahannya hanya sibuk memperkaya diri.” Si pemuda hanya terdiam. “Kualitas para tokoh politik itu”, lanjut teks itu, “..hanya setingkat dengan stereotip yang kita lekatkan pada pegawai negeri: seadanya, kurang kreatif, ogah berinisiatif, dan gigih menjaga tradisi tak bertanggungjawab”. Pemuda ini tampak tersinggung dengan kata-kata itu, karena dia adalah juga seorang pegawai negeri bahkan ia berambisi memimpin, tapi kali ini ia benar-benar tak kuasa membantah.

Bahkan kemarin juga sempat muncul teks radikal lain dalam kacamataberpikirnya, “potong generasi”, begitu kira-kira bunyinya. Tetapi dia tak kuasa menyampaikan pemikirannya itu kepada dunia. Dalam bayangan absurdnya dia masih bertanya apakah dirinya sudah mempersiapkan diri untuk menggantikan sang tua, yang akan di”potong” itu. Sejarah membuktikan para muda hanya bisa menumbangkan rezim, setelahnya, orang-orang “lama” itu juga yang kembali menduduki jabatannya, kali ini dalam topeng yang lain .

Kemana anak-anak muda itu, tak jelas. Mungkin mereka menganggap tugas mereka sudah selesai, atau bahkan ternyata mereka tidak sanggup menggantikan sang tua. Diadu apapun mereka kalah, mereka cuma jago mengumbar kata-kata idealis, mereka tidak punya struktur filosofi yang kuat dan solid. Bahasa mereka selalu terdengar berapi-api dengan banyak mengutip sumber-sumber akademik, namun kering implementasi. Di dalam mereka keropos bahkan tak sanggup mengurus diri.

Akankah kita serahkan bangsa ini pada orang-orang seperti itu???

Tapi, dunia lebih sulit dari kelihatannya dan cepat sekali berubah. Mereka kemarin yang dijarah sudah mulai pandai meniru menjarah. Mereka yang perlu direformasi sudah mulai fasih meneriakkan reformasi. Mereka yang kemarin dipaksa-paksa sudah mulai berani mencoba memaksa. Mereka yang kemarin dipojokkan sudah mulai belajar memojokkan.

Tapi itu hanyalah teks, telah berkali-kali ia berguru pada teks dan hasilnya hanyalah “mimpi”. Hasilnya adalah bayangan bias. Teks itu bagaikan meluncur dari para pelaku kehidupan yang sudah banyak makan garam tetapi nyatanya hal itu hanyalah menambah keresahan bahwa teks itu mungkin hanya akan membuat hatinya membumbung ke angkasa ke dalam bayang idealisme yang juga melangit. Tapi, sekali lagi miskin implementasi. Hampir saja dia tak percaya lagi pada “teks idealis” itu. Sekali lagi, ternyata dunia lebih berat dari kelihatannya.

Apa yang bisa diperbuat?? Tanya sang pemuda kepada alam setelah bosan berguru pada teks. “Jangan berharap terlalu banyak pada teks, dia hanyalah sahabat. Tokoh utama dalam hidupmu adalah kamu, bukan teks. Lihatlah golongan tuamu, kalaupun mereka bebal, korup, tak punya malu, mereka telah berkawan dengan lebih banyak teks dibanding kamu. Dan yang paling penting :mereka melakukan sesuatu jauh melampaui teks. Mereka memanfaatkan teks bukan hanya dengan dialektika, mereka sudah mulai lebih canggih memanfaatkan teks, mereka menyebut itu : manipulasi. Mereka kenyang dengan teks, sehingga nyaris tak pernah kehabisan kata-kata”. Apakah teks telah diperalat oleh mereka??tanya sang pemuda lebih lanjut. Alam diam saja, bahkan menghujani sang pemuda dengan sepi dan perih. Dia menghening, pura-pura tak tahu, kemudian bersiul dengan angin seakan mengejek sang pemuda, lalu membiarkannya sendiri.

Beruntung akhirnya dia dipertemukan dengan teks : “Jangan melangkah di jalan keputusasaan, di alam ini terhampar berjuta harapan. Jangan pergi ke arah kegelapan di alam ini terhampar banyak cahaya.” Walaupun tidak menjawab semua pertanyaannya tetapi minimal teks itu membangkitkan ruang optimismenya. Membuatnya menginventarisir kembali ruang-ruang kemungkinan yang di”doa”kan segera menjadi nyata. Tapi, dia masih menatapnya dengan pandangan absurd.

Beruntun setelah itu teks-teks yang lain menyusul memberi harapan. “Yang anda harus lakukan adalah mengubah mimpi anda. Yang anda butuhkan adalah menanam bibit yang lain, mengajari anak-anak anda cara memimpikan impian baru”, seloroh teks lain mencoba memberi alternatif. “Kita telah memasuki satu dari sekian era penting dalam sejarah manusia, era yang dapat diramalkan. Kita memiliki kesempatan meningkatkan diri kita menuju tingkat kesadaran baru. Kini kita meramalkan masa depan. Terserah kita -aku dan kalian- untuk mewujudkannya.”, teks yang lain tak mau ketinggalan memberi dukungan. Sang pemuda meliriknya, sambil menggumam, “entahlah”.

Ia membuka mata, ia hampir kecewa lagi dengan itu semua. Dalam teks demokrasi ternyata belum tentu ada kemakmuran, dalam teks sosialis nyatanya jarang juga terdengar filantropis menjadi falsafah kehidupannya, bahkan kadang hanyalah penindasan terhadap ketidakberkuasaan. Ia mengambil nafas untuk merenung.

Akhirnya bagiku, teks hanyalah teks. Ia di alamnya dan kami di dunia kami. Tapi aku masih berkawan dengan teks kebenaran, aku masih berteman dengan teks keteladanan. Dalam kehampirputusasaan aku bersahabat dengan teks berpikir positif, aku bergaul dengan mereka. Dalam kesepian mereka, aku menemani mereka dengan menghadirkannya ada. Dalam kesepianku mereka menemani dengan menghadirkan aku ada. Hubungan kami memang sangat “complicated”, kadang kami marah-marahan, Kadang kami mesra seperti seorang adik dan kakak dan sering kami habiskan waktu bersama.

Semoga kami yang sekarang disini bukan hanya kawan, sahabat, teman, saudara dari satu atau berjuta teks kebenaran dan kebaikan. Kami ingin mendampingimu dan menyertaimu dalam kebenaran. Tapi yang terpenting kami, ingin membelamu dalam kebenaran. Mengharap juga engkau bersedia mendampingi, menyertai, menegur, memperbaiki kami dalam kehidupan.

Akhirnya teks hanyalah teks, ia hidup di alamnya, berkawan denganku di alamku, kadang ia membawaku ke alamnya, sesekali… ia mengajarku untuk sama-sama belajar.. hingga akhirnya kita layak menjaga republik..

Luwuk, 31 Januari 2008

Sahabat Pena..

Teks-teks yang terlibat:

1.Ahmad Sobary, Kompas, 22 desember 2007

2.John Perkins , Confession of Economic Hitman II

3.Gusmus, “Rasanya Baru Kemarin”

Inget disuruh Nulis (lagi)


Kira2 bulan maret lalu di hape tiba2 muncul sms : “Kampus mmg gudang idealisme,bgmn dgn di khdpn nyata,t4,posisi,dan perspektif qt skrg bs jd smakin matang atw malah mnumpul..
Ayo kita hdpkan lg gairah menulis kita,brkontribusilah untuk indonesia apa saja yg anda mw dgn tema:stelah menetas dr bengkel,lalu apa?hasil akn dikumpulkan dlm  sbuah antologi.deadline 31jan di email indonesian_future_president@yahoo.com
Slamat brkarya!mri kita mulai lankah mncerdaskan&mencerahkan yg sesungguhnya..”

Trus mulai deh artikelnya di kasihin ke bang IFP (liat alamat imelnya) tapi mpe sekarang gak tau perkembangane, pernah ditanyain mbak lela juga, jadinya malu saya..

Trus akhirnya ma mas hammam bikin web gratisan berkat tutorial di ilmukomputer.com tunggu aja launchingnya, tapi kira2 namanya : www.ndokasin.co.cc belum tau juga mau nulis apa disana…

Jadi inget tulisan dan olok2an si oka buat saya waktu sma : modal semangat doang!!! yaudah ini emang cuma proyek modal semangat (doang). wahahaha…

Temen2ku dah pada ngabur kemana ya???